• Resistensi terhadap Penerus Bisnis Keluarga
Article:

Resistensi terhadap Penerus Bisnis Keluarga

29 October 2019

Perencanaan untuk generasi selanjutnya sering kali menjadi hal “tabu” dalam bisnis keluarga, terutama di Asia – karena hal ini sering dikaitkan dengan hal-hal yang menakutkan seperti kematian dan kecacatan dari pemimpin bisnis keluarga saat ini, serta sering memicu persaingan antar saudara kandung dan konflik-konflik lainnya. Stanley Ho, seorang pengusaha miliarder di Makau mencoba menghindari munculnya banyak pemimpin-pemimpin baru, dan menganggap langkah ini sebagai bagian dari visi strategis dan perencanaan bagi bisnisnya demi menghindari konflik di antara anggota keluarga.

Di seluruh dunia, hanya sepertiga dari bisnis keluarga yang berhasil melakukan transisi dari setiap generasi ke generasi berikutnya, dan beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa hanya sekitar 5 persen bisnis keluarga yang masih bertahan ketika mencapai generasi ketiga dan seterusnya. Semangat untuk terus melakukan regenerasi perlu terus dinyalakan. Namun, kapan sesungguhnya regenerasi harus dilakukan? Penelitian BDO di Eropa dan Australia telah menunjukkan bahwa jika pada saat pemimpin yang berkuasa mencapai usia 65 dan tidak ada rencana regenerasi, transisi generasi kemungkinan besar tidak akan berjalan dengan baik untuk bisnis keluarga tersebut.

Alasan terkuat kenapa pemimpin suatu bisnis tidak bersedia untuk melakukan proses regenerasi adalah karena mereka merasa berat untuk memutuskan siapa penerus bisnis selanjutnya ketika ada dua atau lebih saudara kandung yang dianggap mampu. Pada situasi lain, pemimpin saat ini melihat bahwa tidak ada satu pun dari calon penerusnya yang dianggap mampu. Kedua hal itulah yang sering menjadi dilema bagi seorang pemimpin untuk melakukan regenerasi. Pihak lain yang juga kadang menolak adanya regenerasi adalah pasangan dari sang pemimpin saat ini. Dirinya enggan mendorong langkah pasangannya untuk pensiun. Dia juga mungkin tidak menyukai jika pasangannya tersebut melepaskan banyak posisi penting yang dia pegang di dalam bisnis keluarga.

Norma-norma budaya yang mengatur perilaku keluarga juga menghambat diskusi antara orangtua dan generasi berikutnya tentang masa depan keluarga. Pembahasan mengenai hal yang berkaitan dengan masalah keuangan dan alokasinya adalah hal yang sangat sensitif. Perencanaan regenerasi tentu saja terkait dengan topik-topik tersebut, sehingga hal ini sering kali dihindari. Meskipun sesungguhnya tidak melakukan regenerasi sering kali menjadi bencana bagi bisnis keluarga di kemudian hari, banyak pemimpin dan anggota keluarga yang berkuasa, enggan menyerahkan kendali dan lebih suka hidup dalam ambiguitas. Bagi mereka menghindari masalah mungkin adalah tindakan terbaik.

Karyawan pun dapat menjadi penghambat proses regenerasi, meskipun majunya suatu bisnis keluarga tentu memberi dampak positif bagi mereka juga. Bagi banyak karyawan (terutama manajer senior), hubungan pribadi mereka yang erat dengan petinggi saat ini merupakan keuntungan terpenting ketika bekerja dalam suatu bisnis keluarga. Penggantian petinggi saat ini dengan penerus baru, yang dianggap tidak berpengalaman dan cenderung akan membuat perubahan besar, dipandang sebagai “ancaman” terhadap kepuasan dan keamanan oleh karyawan.

Kekhawatiran eksternal tentang perubahan ternyata juga berperan. Para klien besar cenderung menolak adanya perubahan dan enggan mempercayai wajah baru. Itulah keadaan yang dialami oleh pemimpin bisnis ketika akan melakukan regenerasi. Mereka harus menghadapi serangkaian resistensi yang kompleks dan saling terkait, baik secara psikologis, emosional, keluarga, karyawan, hingga faktor eksternal . Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa hanya sedikit pemimpin bisnis keluarga yang bersedia dan mampu mengatur perencanaan regenerasi yang efektif, dan pada akhirnya fokus pada menunda proses tersebut karena ada ketakutan munculnya beragam masalah.

Meskipun tidak ada cara yang terbukti mudah dalam menjalankan regenerasi, niat yang kuat adalah modal utama agar proses ini bisa sukses. Walaupun ada banyak keputusan sulit yang harus diambil oleh pemimpin dalam proses regenerasi, kemauan dan niat kuat sering kali merupakan faktor yang menentukan keberhasilan hal tersebut. Ada analogi yang bagus antara menjalankan bisnis keluarga dan menerbangkan pesawat:

Tidak ada banyak tantangan dan bahaya yang dihadapi oleh pesawat ketika berada di tengah suatu penerbangan. Lepas landas dan mendarat lah momen ketika pesawat jauh lebih rentan terhadap kecelakaan. Proses regenerasi mirip dengan momen pendaratan dan lepas landas ini. Dalam sejarah suatu bisnis keluarga, inilah saat-saat rentan dan berbahaya namun tetap harus dihadapi.

Artikel ini ditulis oleh Roger Loo dan Josephine Tam

 

Jika Anda ingin berdiskusi lebih lanjut mengenai bisnis yang Anda jalani, silakan hubungi para ahli kami:

Athanasius Tanubrata

Advisory Managing Director

[email protected]

Josephine Tam

Associate Director at BDO Consultants Pte Ltd

[email protected]